- By Rusdi Galileo Kasatpel 270 Jakarta
- 30 Sep 2026
- 840
GIAT URBAN FARMING SMPN 270 JAKARTA: DARI LAHAN TERLANTAR MENJADI KEBUN PRODUKTIF DAN KOLAM BUDI DAYA
GIAT URBAN FARMING SMPN 270 JAKARTA: DARI LAHAN TERLANTAR MENJADI KEBUN PRODUKTIF DAN KOLAM BUDI DAYA

SMPN 270 Jakarta Mulai Panen Kangkung, Kembangkan Budi Daya Lele dan Nila, serta Hadirkan Kolam Ikan Koi
Jakarta — Lingkungan sekolah bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran yang hidup, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga sekolah. Semangat tersebut diwujudkan oleh keluarga besar SMPN 270 Jakarta melalui kegiatan Urban Farming yang dikembangkan secara gotong royong oleh guru dan tenaga kependidikan.
Selama lebih dari tiga bulan, area kebun yang berada di samping sekolah secara perlahan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi pepohonan keras berukuran cukup tinggi dan belum dimanfaatkan secara optimal, kini disulap menjadi area pertanian perkotaan yang produktif dan tertata.
Tidak sekadar menghadirkan tanaman hijau, Urban Farming SMPN 270 Jakarta kini telah berkembang menjadi sebuah kawasan kecil yang memadukan berbagai jenis tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman obat keluarga atau TOGA, serta budi daya ikan. Bahkan, pada tahap terakhir pengembangan, tim Urban Farming berhasil menyelesaikan pembangunan kolam ikan Koi yang semakin mempercantik kawasan tersebut.
Perubahan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan tidak selalu menjadi hambatan untuk menciptakan ruang hijau dan kegiatan produktif. Dengan kreativitas, kerja sama, ketekunan, serta semangat gotong royong, ruang yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal dapat diubah menjadi lahan yang memberikan manfaat bagi warga sekolah.
Dari Kebun yang Dipenuhi Pohon Keras Menjadi Area Produktif
Gagasan Urban Farming di SMPN 270 Jakarta berawal dari keinginan untuk memanfaatkan salah satu bagian lingkungan sekolah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Area kebun di samping sekolah sebelumnya dipenuhi berbagai pohon keras yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut membuat area tersebut terlihat kurang terbuka dan belum dapat digunakan secara maksimal sebagai ruang produktif. Namun, melalui pengamatan dan pembicaraan di antara warga sekolah, muncul gagasan untuk melakukan penataan kawasan secara bertahap.
Tim Urban Farming yang terdiri atas guru dan tenaga kependidikan kemudian mulai bergerak. Tidak ada perubahan yang terjadi secara instan. Semua dilakukan sedikit demi sedikit, mulai dari membersihkan area, menata lahan, mengatur lokasi tanaman, menyiapkan media tanam, membuat bedeng, menyiapkan sarana budi daya, hingga membangun kolam ikan.
Lebih dari tiga bulan menjadi periode penting bagi tim dalam mewujudkan gagasan tersebut.
Dalam prosesnya, para guru dan tenaga kependidikan tidak hanya berperan sebagai penggagas, tetapi juga terlibat langsung dalam pekerjaan di lapangan. Mereka bersama-sama membersihkan lahan, menata tanaman, menyiapkan tempat budi daya, melakukan penyiraman, merawat tanaman, memberikan pupuk, serta melakukan pemantauan terhadap perkembangan tanaman dan ikan.
Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam kegiatan tersebut.
Pekerjaan dilakukan di sela-sela tugas utama masing-masing. Setelah menyelesaikan pekerjaan kedinasan, sebagian anggota tim masih menyempatkan diri untuk melihat kondisi kebun, menyiram tanaman, membersihkan area, memeriksa kolam, maupun melakukan perawatan lainnya.
Hal inilah yang membuat Urban Farming SMPN 270 Jakarta tidak hanya menjadi sebuah program lingkungan, tetapi juga menjadi sebuah gerakan bersama yang tumbuh dari kepedulian warga sekolah.
Panen Perdana Kangkung Menjadi Momentum Kebanggaan
Salah satu hasil yang mulai dirasakan dari kegiatan Urban Farming tersebut adalah panen kangkung.
Tanaman kangkung dipilih karena relatif cepat tumbuh dan dapat menjadi salah satu tanaman pangan yang sesuai dikembangkan dalam sistem pertanian perkotaan. Setelah melalui proses penanaman dan perawatan, tanaman kangkung akhirnya dapat dipanen.
Panen tersebut menjadi momentum yang membanggakan bagi tim Urban Farming.
Bagi sebagian orang, memanen kangkung mungkin terlihat sebagai kegiatan sederhana. Namun bagi guru dan tenaga kependidikan SMPN 270 Jakarta yang selama lebih dari tiga bulan terlibat dalam proses penataan lahan, hasil panen tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar.
Kangkung yang dipanen merupakan hasil dari kerja keras mereka sendiri.
Dari lahan yang sebelumnya dipenuhi pohon keras, kini tumbuh tanaman pangan yang dapat dipanen dan dimanfaatkan. Proses tersebut memberikan pengalaman langsung bahwa sebuah lahan dapat memberikan hasil apabila dikelola dengan sungguh-sungguh.
Panen kangkung sekaligus menjadi pemicu semangat untuk terus mengembangkan Urban Farming.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa konsep pertanian perkotaan dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Tidak harus memiliki lahan yang sangat luas, tetapi diperlukan kemauan untuk memanfaatkan ruang yang tersedia secara kreatif dan produktif.
Mengembangkan Budi Daya Ikan Lele dan Nila
Tidak hanya tanaman, tim Urban Farming SMPN 270 Jakarta juga mengembangkan budi daya ikan.
Dua jenis ikan yang dikembangkan adalah lele dan nila.
Budi daya ikan tersebut menjadi bagian dari konsep Urban Farming yang dikembangkan secara terpadu. Dengan memanfaatkan ruang yang ada, lingkungan sekolah tidak hanya menghasilkan tanaman tetapi juga mulai dikembangkan sebagai lokasi budi daya perikanan.
Pemeliharaan ikan membutuhkan ketelatenan tersendiri. Kondisi air, pemberian pakan, kebersihan kolam, serta perkembangan ikan harus diperhatikan secara berkala.
Bagi tim Urban Farming, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru. Guru dan tenaga kependidikan dapat belajar bersama mengenai bagaimana mengelola budi daya ikan dalam skala lingkungan sekolah.
Keberadaan kolam ikan juga menambah variasi kegiatan di kawasan Urban Farming. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada tanaman, kini warga sekolah dapat melihat adanya ekosistem sederhana yang menggabungkan unsur tanaman dan perikanan.
Ikan lele dan nila dipelihara sebagai bagian dari pengembangan kawasan produktif tersebut. Ke depan, budi daya ikan diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga kawasan Urban Farming menjadi semakin lengkap.
Beragam Tanaman Menghiasi Area Urban Farming
Seiring dengan perkembangan kawasan, jenis tanaman yang ditanam oleh tim Urban Farming juga semakin beragam.
Selain kangkung, terdapat tanaman sayuran dan tanaman pangan lainnya seperti pare, labu, cabai, jagung, kacang panjang, serta cabai rawit.
Keberadaan berbagai jenis tanaman tersebut menjadikan area Urban Farming semakin hidup.
Tanaman pare dan labu menjadi bagian dari tanaman yang dikembangkan dengan memanfaatkan ruang tumbuh secara vertikal maupun menjalar. Tanaman tersebut membutuhkan perawatan dan penataan agar pertumbuhannya dapat diarahkan dengan baik.
Sementara itu, tanaman cabai dan cabai rawit memberikan warna tersendiri bagi kawasan kebun. Tanaman tersebut menjadi salah satu komoditas yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari karena banyak digunakan sebagai bahan pangan.
Kemudian terdapat jagung dan kacang panjang yang juga dikembangkan sebagai tanaman pangan.
Keragaman tanaman ini memperlihatkan bahwa Urban Farming SMPN 270 Jakarta tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan satu jenis tanaman, melainkan dikembangkan menjadi kebun yang memiliki berbagai macam komoditas.
Semakin banyak jenis tanaman yang ditanam, semakin banyak pula pengalaman yang dapat diperoleh tim dalam melakukan perawatan.
Tanaman TOGA dan Jeruk Nipis
Bagian lain yang tidak kalah menarik adalah pengembangan Tanaman Obat Keluarga atau TOGA.
TOGA menjadi salah satu unsur penting dalam kawasan Urban Farming karena memperkenalkan kembali berbagai tanaman yang memiliki nilai guna dalam kehidupan sehari-hari.
Pengembangan TOGA juga memiliki nilai edukatif. Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat untuk mengenalkan berbagai jenis tanaman kepada warga sekolah, khususnya peserta didik, apabila kawasan tersebut nantinya dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran kontekstual.
Selain TOGA, terdapat pula tanaman jeruk nipis yang dikembangkan di kawasan Urban Farming.
Keberadaan jeruk nipis menambah keragaman tanaman sekaligus memperkuat konsep kebun produktif. Dengan adanya berbagai tanaman, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya berbagai tanaman yang memiliki manfaat.
Kolam Ikan Koi, Proyek Terakhir yang Menambah Keindahan
Salah satu proyek terbaru yang berhasil diselesaikan oleh tim Urban Farming SMPN 270 Jakarta adalah kolam ikan Koi.
Kolam tersebut menjadi bagian yang menarik dalam pengembangan kawasan.
Jika tanaman dan kolam budi daya lele serta nila lebih banyak diarahkan pada aspek produktivitas, kolam Koi memberikan sentuhan estetika sekaligus menjadi elemen yang mempercantik kawasan Urban Farming.
Pembangunan kolam Koi juga menunjukkan bahwa konsep Urban Farming yang dikembangkan tidak semata-mata berorientasi pada hasil panen.
Ada aspek keindahan, kenyamanan, dan penataan lingkungan yang turut menjadi perhatian.
Kolam tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu titik yang memberikan suasana berbeda ketika warga sekolah berada di kawasan Urban Farming.
Suara air, keberadaan ikan, tanaman hijau, serta penataan kebun dapat menciptakan suasana yang lebih asri di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, kawasan Urban Farming memiliki beberapa fungsi sekaligus: sebagai ruang produktif, ruang hijau, ruang edukasi, serta ruang yang dapat memberikan suasana nyaman bagi warga sekolah.
Kerja Keras Guru dan Tenaga Kependidikan
Keberhasilan Urban Farming SMPN 270 Jakarta tidak dapat dilepaskan dari peran guru dan tenaga kependidikan yang tergabung dalam tim.
Mereka bekerja secara bersama-sama dalam suasana gotong royong.
Ada yang membersihkan lahan, menata tanaman, menyiapkan media tanam, merawat tanaman, memberikan pakan ikan, membersihkan kolam, maupun mengembangkan bagian lain dari kawasan Urban Farming.
Pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana apabila dilihat hanya dari hasil akhirnya.
Namun, perubahan sebuah lahan yang sebelumnya dipenuhi pohon keras menjadi kebun produktif membutuhkan tenaga, waktu, konsistensi, dan kesabaran.
Proses selama lebih dari tiga bulan menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan tidak dapat dilakukan hanya dengan perencanaan di atas kertas. Dibutuhkan keterlibatan langsung dari orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat tersebut terlihat dari kebersamaan tim dalam menyelesaikan berbagai tahapan.
Urban Farming akhirnya menjadi salah satu ruang yang mempertemukan semangat kerja, kreativitas, dan hobi para guru serta tenaga kependidikan.
Hobi yang Menemukan Ruang di Lingkungan Sekolah
Dalam kesempatan tersebut, Kasatpel SMPN 270 Jakarta, Bapak Rusdiyanto, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tim Urban Farming yang telah bekerja keras mewujudkan kawasan tersebut.
Menurut Rusdiyanto, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama yang patut diapresiasi.
Ia melihat kegiatan Urban Farming bukan hanya sebagai kegiatan tambahan, tetapi juga menjadi ruang bagi guru dan tenaga kependidikan untuk menyalurkan minat dan hobi mereka.
"Teman-teman tendik bisa mewujudkan hobi yang tidak dapat diwujudkan di rumah karena keterbatasan lahan," ungkap Rusdiyanto.
Pernyataan tersebut menggambarkan salah satu sisi menarik dari kegiatan Urban Farming di SMPN 270 Jakarta.
Tidak semua orang memiliki lahan yang cukup luas di rumah untuk berkebun atau memelihara ikan. Keterbatasan lahan di lingkungan tempat tinggal sering kali membuat seseorang yang memiliki hobi berkebun tidak dapat menyalurkan hobinya secara optimal.
Lingkungan sekolah kemudian menjadi ruang bersama yang dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan kreativitas tersebut.
Tentu saja kegiatan dilakukan dengan tetap memperhatikan tugas dan tanggung jawab kedinasan masing-masing.
Dengan adanya Urban Farming, hobi berkebun dan budi daya dapat dilakukan secara bersama-sama sekaligus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah.
Apresiasi untuk Semangat Tanpa Lelah
Rusdiyanto juga memberikan penghargaan atas kerja keras tim yang menurutnya telah berjibaku tanpa lelah dalam mewujudkan kawasan Urban Farming.
Apresiasi tersebut bukan hanya ditujukan kepada mereka yang terlihat bekerja di lapangan, tetapi kepada seluruh tim yang telah memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk.
Sebab, sebuah kegiatan bersama tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan satu atau dua orang.
Ada perencanaan, pelaksanaan, perawatan, koordinasi, serta evaluasi yang harus dilakukan secara berkesinambungan.
Dalam konteks Urban Farming, pekerjaan bahkan belum selesai setelah tanaman ditanam.
Justru setelah penanaman, proses perawatan menjadi bagian penting.
Tanaman harus disiram, dipupuk, dipantau pertumbuhannya, dan dilindungi dari gangguan. Kolam ikan juga harus dirawat dan dipantau agar tetap dalam kondisi baik.
Karena itu, Urban Farming membutuhkan konsistensi.
Urban Farming Sebagai Budaya Positif di Sekolah
Kegiatan Urban Farming di SMPN 270 Jakarta juga memiliki potensi untuk berkembang menjadi bagian dari budaya positif sekolah.
Sekolah dapat menjadi lingkungan yang tidak hanya bersih dan tertata, tetapi juga produktif.
Budaya merawat tanaman, menjaga kebersihan lingkungan, menghemat air, memanfaatkan lahan, dan menjaga keberlangsungan ekosistem merupakan kebiasaan positif yang dapat ditumbuhkan secara bertahap.
Dalam jangka panjang, kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh bahwa lingkungan sekolah dapat dikelola dengan prinsip pemanfaatan ruang yang kreatif.
Area yang sebelumnya dianggap tidak produktif dapat diubah menjadi ruang yang memiliki nilai guna.
Kegiatan Urban Farming juga dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Ketika seseorang ikut menanam dan merawat tanaman, muncul keterikatan terhadap hasil kerja tersebut. Tanaman yang tumbuh menjadi bagian dari proses yang telah dilakukan bersama.
Potensi Menjadi Media Pembelajaran
Urban Farming juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai media pembelajaran kontekstual bagi peserta didik.
Konsep pembelajaran tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas.
Kebun sekolah dapat menjadi laboratorium sederhana yang memperlihatkan secara langsung bagaimana tanaman tumbuh, bagaimana ikan dipelihara, serta bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan.
Peserta didik dapat belajar mengenai proses pertumbuhan tanaman, kebutuhan air, cahaya matahari, media tanam, pengelolaan lingkungan, hingga budi daya ikan.
Tanaman kangkung yang dipanen misalnya, dapat menjadi contoh nyata tentang siklus tanaman pangan.
Begitu pula dengan tanaman cabai, kacang panjang, jagung, pare, labu, dan berbagai tanaman lainnya.
Kolam lele dan nila dapat menjadi media untuk mengenalkan budi daya perikanan.
Sedangkan kolam Koi dapat menjadi contoh mengenai aspek estetika dan pemanfaatan elemen air dalam penataan lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, Urban Farming dapat berkembang menjadi ruang belajar yang bersifat nyata dan aplikatif.
Gotong Royong Menjadi Kunci
Salah satu nilai penting yang terlihat dari kegiatan tersebut adalah gotong royong.
Urban Farming SMPN 270 Jakarta bukanlah hasil pekerjaan satu orang.
Kawasan tersebut lahir dari keterlibatan banyak pihak.
Guru dan tenaga kependidikan saling melengkapi.
Ada yang memiliki pengalaman dalam berkebun, ada yang memahami teknik sederhana budi daya, ada yang memiliki kreativitas dalam menata lingkungan, dan ada pula yang memiliki ketekunan dalam melakukan perawatan rutin.
Semua kemampuan tersebut bertemu dalam satu tujuan: menciptakan lingkungan sekolah yang lebih produktif dan nyaman.
Semangat gotong royong tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan program.
Sebab, tantangan terbesar dalam sebuah program lingkungan bukan hanya memulai, melainkan mempertahankan keberlangsungannya.
Dari Panen Pertama Menuju Pengembangan Berikutnya
Panen kangkung menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Urban Farming SMPN 270 Jakarta.
Namun, perjalanan tersebut belum selesai.
Masih terdapat banyak kemungkinan pengembangan yang dapat dilakukan.
Tanaman yang sudah ada dapat terus dirawat dan dikembangkan. Jenis tanaman baru dapat ditambahkan sesuai dengan kondisi lahan. Budi daya ikan lele dan nila dapat terus dipantau hingga memasuki masa panen.
Sementara itu, kolam Koi dapat menjadi salah satu bagian yang terus dirawat sehingga tetap menjadi elemen estetika di kawasan Urban Farming.
Dengan perawatan yang berkelanjutan, kawasan tersebut berpotensi menjadi salah satu ruang unggulan di lingkungan SMPN 270 Jakarta.
Tidak tertutup kemungkinan ke depan dilakukan pengembangan sistem pemanfaatan air, pengomposan, pemilahan sampah organik, pembuatan pupuk kompos, hingga sistem pertanian sederhana yang lebih terintegrasi.
Dengan demikian, Urban Farming dapat berkembang dari sekadar kebun sekolah menjadi ekosistem kecil yang menerapkan prinsip pemanfaatan sumber daya secara bijak.
Menanam Hari Ini, Memanen Manfaat di Masa Depan
Apa yang dilakukan oleh tim Urban Farming SMPN 270 Jakarta merupakan sebuah proses yang membutuhkan kesabaran.
Tanaman tidak dapat tumbuh dalam satu malam.
Kolam tidak dapat dibangun tanpa tenaga.
Lingkungan tidak dapat berubah tanpa kepedulian.
Semua membutuhkan proses.
Lebih dari tiga bulan perjalanan tim Urban Farming menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Sebuah lahan yang sebelumnya dipenuhi pohon keras dapat dibersihkan dan ditata.
Kemudian tanaman ditanam.
Tanaman dirawat.
Kolam dibuat.
Ikan dipelihara.
Dan pada akhirnya, hasil pertama mulai terlihat melalui panen kangkung.
Dari proses tersebut terdapat sebuah pesan sederhana bahwa lingkungan yang produktif lahir dari kepedulian dan konsistensi.
Menjadi Inspirasi Bagi Warga Sekolah
Urban Farming SMPN 270 Jakarta juga diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada seluruh warga sekolah.
Bagi guru dan tenaga kependidikan, kawasan tersebut menjadi ruang untuk berkarya dan menyalurkan kreativitas.
Bagi peserta didik, kawasan tersebut dapat menjadi contoh nyata bahwa lingkungan sekolah dapat dikelola secara produktif.
Bagi sekolah, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau, nyaman, dan memiliki nilai edukatif.
Sementara bagi masyarakat, kegiatan tersebut dapat menjadi contoh bahwa urban farming dapat diterapkan meskipun memiliki keterbatasan lahan.
Kuncinya adalah bagaimana ruang yang tersedia dimanfaatkan dengan perencanaan dan kreativitas.
Kebersamaan yang Menghasilkan
Lebih dari sekadar kegiatan berkebun, Urban Farming SMPN 270 Jakarta telah memperlihatkan bagaimana sebuah kebersamaan dapat menghasilkan perubahan nyata.
Para guru dan tenaga kependidikan yang selama ini menjalankan tugas profesionalnya di lingkungan pendidikan ternyata juga memiliki berbagai potensi dan minat yang dapat dikembangkan.
Ada yang memiliki hobi berkebun.
Ada yang menyukai tanaman.
Ada yang tertarik dengan budi daya ikan.
Ada yang senang menata lingkungan.
Semua potensi tersebut kemudian bertemu dalam satu kawasan.
Hasilnya dapat dilihat secara langsung.
Kebun yang dahulu dipenuhi pepohonan keras kini memiliki tanaman sayuran dan tanaman produktif.
Kangkung telah mulai dipanen.
Pare dan labu tumbuh.
Cabai dan cabai rawit dikembangkan.
Jagung dan kacang panjang ditanam.
TOGA dan jeruk nipis turut menghiasi kawasan.
Lele dan nila dibudidayakan.
Dan sebuah kolam Koi telah berhasil diselesaikan sebagai proyek terakhir dalam pengembangan kawasan tersebut.
Sebuah Langkah Kecil dengan Makna Besar
Jika dilihat dari luas kawasan dan skala produksinya, Urban Farming SMPN 270 Jakarta mungkin merupakan kegiatan sederhana.
Namun, maknanya jauh lebih besar.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang untuk membangun kebiasaan positif.
Sekolah tidak hanya berbicara tentang gedung, ruang kelas, meja, kursi, buku, dan pembelajaran formal.
Sekolah juga berbicara tentang lingkungan, karakter, kreativitas, kepedulian, kerja sama, dan keberlanjutan.
Ketika guru dan tenaga kependidikan bekerja bersama membersihkan lahan, menanam tanaman, memelihara ikan, dan menata lingkungan, mereka sebenarnya sedang membangun sebuah budaya.
Budaya kerja sama.
Budaya peduli lingkungan.
Budaya produktif.
Dan budaya untuk tidak membiarkan sebuah ruang menjadi tidak bermanfaat.
Komitmen Menjaga Keberlanjutan
Ke depan, keberlanjutan menjadi hal yang penting.
Urban Farming yang telah dibangun selama lebih dari tiga bulan harus terus dirawat.
Tanaman membutuhkan perhatian.
Kolam membutuhkan pemeliharaan.
Lingkungan membutuhkan kebersihan.
Karena itu, diperlukan pembagian tugas dan tanggung jawab agar kawasan tersebut dapat terus berkembang.
Semangat yang sudah terbentuk harus dipertahankan.
Apresiasi yang disampaikan Kasatpel SMPN 270 Jakarta menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap kerja keras tim sekaligus motivasi agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada pencapaian saat ini.
Apa yang sudah dibangun menjadi fondasi untuk pengembangan berikutnya.
Penutup
Giat Urban Farming di SMPN 270 Jakarta menjadi cerita tentang sebuah perubahan yang lahir dari kepedulian dan kebersamaan.
Selama lebih dari tiga bulan, guru dan tenaga kependidikan bekerja bersama mengubah area kebun di samping sekolah yang sebelumnya dipenuhi pohon keras cukup tinggi menjadi kawasan Urban Farming yang lebih tertata, hijau, produktif, dan memiliki nilai edukatif.
Hasilnya mulai terlihat.
Kangkung telah memasuki masa panen.
Budi daya ikan lele dan nila telah berjalan.
Berbagai tanaman seperti pare, labu, TOGA, cabai, jeruk nipis, jagung, kacang panjang, dan cabai rawit tumbuh menghiasi kawasan.
Pengembangan juga dilengkapi dengan kolam ikan Koi yang menjadi proyek terakhir sekaligus memberikan sentuhan estetika pada kawasan tersebut.
Di balik semua itu terdapat kerja keras para guru dan tenaga kependidikan.
Mereka tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga menanam semangat kebersamaan.
Mereka tidak hanya membuat kebun, tetapi juga menciptakan ruang untuk berkarya.
Dan mereka tidak hanya memanfaatkan lahan, tetapi juga menunjukkan bahwa keterbatasan ruang bukan alasan untuk berhenti menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Kasatpel SMPN 270 Jakarta, Bapak Rusdiyanto, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tim yang telah berjibaku tanpa lelah mewujudkan Urban Farming tersebut.
Baginya, kegiatan ini menjadi sesuatu yang positif karena memberikan ruang bagi teman-teman tenaga kependidikan untuk menyalurkan hobi yang selama ini sulit diwujudkan di rumah karena keterbatasan lahan.
Kini, hobi tersebut menemukan ruang di lingkungan sekolah.
Kebun tumbuh.
Ikan berkembang.
Panen mulai dinikmati.
Kolam Koi telah selesai.
Dan semangat gotong royong terus menjadi energi utama.
Urban Farming SMPN 270 Jakarta pada akhirnya bukan sekadar tentang kangkung, cabai, jagung, kacang panjang, pare, labu, atau ikan lele dan nila. Lebih dari itu, Urban Farming adalah tentang bagaimana sebuah ruang dapat diubah menjadi sumber manfaat melalui kerja keras, kreativitas, kepedulian, dan kebersamaan.
Dari sebuah lahan yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal, kini tumbuh sebuah kawasan produktif.
Dari tangan-tangan guru dan tenaga kependidikan, lahir sebuah karya.
Dan dari karya tersebut, diharapkan tumbuh manfaat yang dapat dirasakan oleh seluruh warga SMPN 270 Jakarta.
Menanam dengan kebersamaan, merawat dengan ketulusan, dan memanen hasil dari kerja keras bersama.
Itulah semangat Urban Farming SMPN 270 Jakarta.
























-500x331.jpeg)